Gambar Ilustrasi

Gambar Ilustrasi

ACEHTERKINI.com | “Dari hasil pemantauan KontraS Aceh, motif kekerasan didominasi pada konteks persaingan politik kompetitif para kandidat. Ketegangan politik akar rumput masih bisa menjadi alat penekan efektif antarkelompok kepentingan,” kata Koordinator Badan Pekerja KontraS Aceh, Destika Gilang Lestari.

“Kita minta polisi agar segera menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi menjelang pemilu 2014. Penyelesaian satu kasus atau dua kasus sangat berarti dalam menjamin rasa aman masyarakat menjelang Pemilu 2014,” kata Gilang dalam pernyataanya kepada acehterkini.

Dijelaskannya Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mencatat ada 19 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang tahun 2013 terkait dengan kekerasan dalam konteks pilkada dan juga menjelang Pemilihan Umum Calon Legeslatif 2014.

Menurut Destika, metode kekerasan yang terjadi beragam, antara lain berupa penyerangan fisik, penganiayaan, teror, intimidasi, dan perusakan alat-alat kampanye. Situasi tersebut mengakibatkan rendahnya jaminan keamanan bagi warga Aceh dan menjadi biaya politik tinggi yang harus dikeluarkan rakyat.

Kegagalan Kepolisian dalam pengungkapan kasus-kasus Kriminal dan kekerasan di Aceh menjadi preseden buruk dalam kerangka reformasi dan profesionalisme kepolisian, dan akan menjadi bukti kegagalan negara dalam memenuhi rasa aman dan melindugi hak politik warga negaranya.[at-003]